Desa Sumber – Semangat membangun budaya antikorupsi terus diperkuat oleh Pemerintah Desa Sumber melalui pelestarian kearifan lokal. Momentum kegiatan Suran yang rutin diselenggarakan setiap tahun dimanfaatkan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Sumber, Maryono, S.Sos, menyampaikan bahwa tradisi Suran bukan sekadar kegiatan budaya atau seremoni tahunan, melainkan memiliki makna yang mendalam sebagai bentuk rasa syukur, refleksi diri, serta penguatan karakter masyarakat. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut sejalan dengan semangat pembangunan Desa Antikorupsi.
"Melalui kegiatan Suran, masyarakat diajak untuk terus menjaga nilai kejujuran, kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini merupakan pondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang bersih, transparan, dan bebas dari praktik korupsi," ujar Maryono.
Ia menjelaskan bahwa berbagai kesenian daerah yang ditampilkan dalam rangkaian kegiatan Suran juga menjadi media edukasi bagi masyarakat. Pesan-pesan moral yang disampaikan melalui seni tradisional mengajarkan pentingnya hidup sederhana, menghormati sesama, menjunjung tinggi kejujuran, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Pemerintah Desa Sumber berkomitmen untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai antikorupsi ke dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, maupun pemerintahan desa. Dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai media pembelajaran, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya integritas dapat tumbuh secara alami dan menjadi budaya yang diwariskan kepada generasi muda.
Melalui sinergi antara pelestarian budaya dan penguatan karakter, Desa Sumber optimistis dapat mewujudkan masyarakat yang berbudaya, berintegritas, serta mendukung terciptanya tata kelola pemerintahan desa yang akuntabel, transparan, dan bebas dari korupsi.