Jelajah
IMG-LOGO
Berita Daerah

Gender dan Perubahan Iklim: Kerja Bersama untuk Menjaga Kehidupan

Create By 26 July 2018 1 Views

Perubahan iklim merupakan fakta yang kita hadapi bersama, seperti yang hari-hari ini sering kita temukan dalam berbagai berita. Cuaca ekstrem atau musim yang tidak bisa diprediksi, menjadi persoalan ketika pada saat yang sama, kita juga dihadapkan pada krisis lingkungan, dan berakibat pada berbagai bencana terkait iklim. Banjir, kekeringan, tanah longsor maupun angin puting beliung hanyalah sedikit contoh dari krisis iklim yang dihadapi. 

Persoalannya, kapasitas untuk bisa merespon dan membangun adaptasi atas perubahan iklim bisa berbeda karena banyak hal, termasuk juga karena gender. Norma sosial gender menjadikan perempuan seringkali menghadapi akses informasi yang lebih terbatas dan sekaligus tidak terlibat dalam pengambilan keputusan untuk memperjuangkan kepentingannya. Begitupun dengan kelompok rentan yang lain seperti disabilitas dan anak-anak serta lansia. Berkaitan dengan kondisi inilah, maka Pemerintah Desa Sumber bekerja sama dengan SRI Institute telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Gender dan Perubahan Iklim. Diskusi yang dilakukan pada 9 Maret 2024 di Balai Desa Sumber ini melibatkan perwakilan dari kelompok perempuan seperti Bank Sampah dan Kelompok Matun, kelompok muda, Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa, PKK, pemerintah desa serta BPD. 

Dalam diskusi, terpetakan berbagai dampak dari perubahan iklim yang dirasakan oleh warga Desa Sumber. Perubahan yang sering dikenal sebagai Salah Mongso ini menyebabkan kekeringan dan kegagalan panen, berkurangnya mata air yang mempengaruhi kesehatan dan juga pertanian, hingga penyakit-penyakit musiman seperti ISPA ataupun penyakit mata beleken yang banyak menimpa anak-anak. Terlebih, dampak juga diperparah karena cara dan pendekatan pertanian yang tidak lestari (terutama dengan penggunaan input kimia berlebih) dan juga tata kelola lahan di kawasan yang cenderung merusak alam seperti penambangan pasir.

Pada saat diskusi, peserta merefleksikan pentingnya mawas diri dan melakukan perubahan dari diri sendiri untuk merespon perubahan iklim, seperti perlunya memilah sampah, mengurangi pemakaian pupuk kimia, menjaga daerah resapan air dan memperbanyak penghijauan, hingga memperkuat upaya yang sudah dilakukan seperti bank sampah dan menjaga keanekaragaman sumber pangan. Praktik-praktik adaptasi dilakukan sebagai praktik keseharian baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup komunitas di desa. Di sektor pertanian, praktik adaptasi tidak lepas dari nilai-nilai kearifan lokal yang dipelajari secara terus menerus bersamaan dan terefleksi dalam istilah Ngengen. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kebiasaan petani untuk melakukan analisa pada situasi seperti iklim yang berubah yang dibarengi dengan praktik uji coba pola dan jenis tanam sesuai dengan hasil analisa. 

Selain upaya-upaya adaptasi yang berbasis kepada pengetahuan tradisional dan kearifan lokal yang dipelajari turun temurun, Desa juga berusaha untuk mendorong adaptasi dan mitigasi dengan pendekatan teknologi. Desa Sumber misalnya telah melakukan pendataan titik mata air menggunakan sistem geospasial dengan teknologi komputer. Selain itu, sistem data pertanian juga tengah dikembangkan terkait dengan tren pasar dan data cuaca untuk mempermudah petani. Upaya ini perlu terus dilakukan dengan kerjasama lintas pihak, baik dari unsur pemerintah maupun masyarakat -baik perempuan maupun laki.

            Tantangan dalam meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim menurut peserta FGD adalah kesiapan SDM. Untuk beradaptasi, perubahan mendasar adalah pada tatanan perilaku untuk mendorong pola hidup yang lebih berkelanjutan dan mendorong agar praktik hidup ramah lingkungan dilakukan secara terus menerus dan menjadi praktik keseharian. Desa perlu melibatkan berbagai pihak dan menerapkan strategi yang lebih bisa diterapkan untuk mendorong perubahan pada aspek perilaku.

 

96,8 FM Radio Gemilang